Pages

Showing posts with label Tentang Utari. Show all posts
Showing posts with label Tentang Utari. Show all posts

Thursday, October 30, 2014

Maafkan aku Cinderella

Mungkin bukan suatu yang amat sopan ketika kita pergi setelah ditolong.
Saat ini bukanlah persoalan materi pribadi semata, lebih jauh mengenai ketidaksepahaman atas apa yang terjadi.

Thursday, October 2, 2014

Terimakasih Cinderella ku

Di malam yang pekat ini, aku bersyukur telah diperkenalkan pada seorang wanita muda bijak, cerdas serta cantik paras dan lembut hatinya walau ketegasan selalu tampil dalam tutur katanya.

Aku bagai dikirimi seorang Cinderella masa kini. Cinderella dengan kereta kencananya yang datang bersama Pangeran yang juga begitu membuat kagum karena kebaikan dan kerendah hati yang dimilikinya.

Semoga berkah dan kebaikan selalu menyertai mereka, yang tentu mereka akan menebarkannya pada kami yang membutuhkan pertolongannya.

Semoga Allah mengirimi juga Cinderella Cinderella lainnya bagiku dan bagi teman2 yang membutuhkannya... Amin

Saturday, September 27, 2014

393 mondar mandir

Hahahaha... 393 mondar mandir.
It's true, keras kepala demi menjembatani dan melancarkan jalannya sebuah situasi dan benar bahwa buah dari keras kepala hanya bete sepanjang hari menunggu dan menunggu.

Persiapan matangpun jadi basi ga berguna

Cinderllaku emang pintar dan instingnya tajam.

Dia pasti bisa bikin istana lagi.
Sementara gue belum dapat jalan walau untuk menggandakan selembar pakaian saja

#krisiskepercayaan #pilu

Thursday, September 18, 2014

Tiga menara

Di dalam perhelatan kata selalu ada belati terselip, siap menikam.

Saat lengah adalah waktu yang ditunggu sang rembulan untuk menyapa emosi, kelelawar akan melemparkan buah kecil beracun yang akan membuat mati.

Tiga menara berdiri kokoh. Masing masing menyimpan berbagai pedang impian.

Yah hidup adalah pilihan, maka sepertinya sudah saatnya memilih pedang dan perisai agar sesuai di medan pertempuran.

Just do it right..... and ready for the risks!!

Tuesday, September 16, 2014

Petualanganku hari ini demi idung

Sebel dengan idung meler ga puguh selama 2 bulan terakhir ini jadilah gue ke dr tht lagi. Pagi janjian sm dr tht jam 10 periksa setelah si dokter operasi. Naik angkot ke rs, wah kalo nyambung2 tuh mahal juga ya angkot.

Di rs dikorek2nya idung gue pake kamera bergagang, spt tongsis hahaha... baru kali ini juga liat idung bagian dalam.

Dapat obat yg sama dengan waktu berobat ke dr tht di pgk hanya beda di antibiotik yang muahal..... Katanya terapi obat dulu 2 minggu, sama dikasih pengantar buat ct scan.. hadeh sejutaan keknya biaya ct scan, trus disaranin juga untuk rontgen gigi krn dia liat ada gigi geraham atas yang ditambal, katanya kemungkinan ada akar yang rusak alias busuk.. masa iya ciiihhh?? Soale ga sakit je gigiku. Ok lah. Diskusi dulu sama si dokter gigi uedan di jogja katanya rontgen panoramic atau apalah namanya pokoke biar keliatan semua... kek panoramio ajeee...

Siang ke lab rontgent naik ojeg. Nunggu 15 menit hasil keluar... canggih ya sekarang. Trus ke drg naik becak. Di drg, antrian disalib sama sales yg lebih oneng dari bebek... Jiyaaaaahhhh begitu liat hasil rontgen drg bilang ini lab minta dimarahin deh, masa hasil rontgen nya jelek katanya kaki kakinya ga utuh (maksudnya gambaran akar gigi yg ga utuh gambarnya) tapi maksud nya kebaca hanya agak susah dan periksa fisik gigi ternyata tambalan bagus ga ada bengkak atau nanah di sekitar akar gigi yg dicurigai penyebab idung meler. Drg curiga hanya alergi bukan sinusitis.

Alahmdulillah.... kalo ke tht lagi mau tindakan cari second opinion dulu ke dr tht di jalan sawo atau jalan proklamasi.. itu tempat para ahli tht kumpul, tambah drg gue. Trus tambahannya lagi minum vitamin jangan lupa, kl bener alergi naikkin stamina pasti alergi kalah.

Bener juga kata drg uedan si Bintang... bahwa dr tht dan drg suka 'rebutan lapak' hahahahaha... Bintang juga bilang sepertinya gue alregi sesuatu, bisa udara ataupun debu. Nah lho emang sih selama di Bangka nih idung meler... hadeh. Sementara saat ini periuk nasi gue di Bangka... haiyyoooooo

Yah jalani ajalah terapi obatnya dulu... Bismillah semoga sembuh.. amin

Omong2 jalan idung gue hari ini banyak juga yak... hahahaha...

Friday, September 12, 2014

Ya ellaaahhh

Seekor kumbang kelapa yang sangat menikmati dirinya sebagai raja di lingkungan kebun sagu dan kelapa yang berawa di suatu hamparan pasir di sebuah pulau kecil.

Kumbang sangat bangga akan dirinya dan sangat semena mena terhadap ketam kenari yang suka mengupas buah kelapa dengan capitnya yang kokoh. Berulang kali kumbang melancarkan aksinya mengelabuhi ketam agar dapat segera pergi dari pohon kelapa kesayangannya. Gigih pula ketam mempertahankan diri dengan berbagai cara.

Sial bagi ketam, suatu hari dalam keseruan perdebatan ketam lengah dan kumbang mengumumkan bahwa ketam mencuri pucuk bunga kelapa... padahal kumbanglah  yang menghabiskan bunga bunga kelapa dengan rakusnya.

Kumbang pergi dengan kesal dan bilang ya elaaàhhh.... lo yang makan gue yang dibilang nyuri... reseh lo, look who's talking dong aaaahhh!!

Jadi inget Hany cucuku yg dipanggil Rina (ibunya) mbak ella karena kalo lagi ngabek sering bilang "ya ellaahh"


Rindu cucu juga rindu Sauiba

Seperti tiup terompet tahun baru


Cara penyampaian informasi itu penting. Pemahaman situasi di seberang itu juga penting dan sepertinya ini yang sulit.

Bisa karena terlalu senang, lega, panik,  takut ataupun merasa sangat tidak nyaman dll makna bisa berubah. Info yang seharusnya cukup buruk terdengar sangat buruk... jd seperti lebay gitu? Huh...

2 kejadian serupa pernah sungguh2 terjadi walau porsi parahnya beda jauh sekali. Menyedihkannya, engga pernah 'nggeh' itu akan terjadi untuk kedua kalinya.
Satu kondisi terjepit karena acungan beberapa parang walau dalam kawalan pria2 yg terlihat tangguh berseragam dan bersenjata (emang mereka mau mati demi gue?? Hahaha... pait emang).

Yang lain adalah disuruh teman pegang 'bom waktu' yang waktu mulai pegang segel sudah dicabut walau waktunya masih lama tapi tetep kan udah harus mulai menghitung mundur.... seperti jelang tengah malam di tahun baru, 10 9 8 7 6 5 4 3 2 1 toooooeeeeeetttttt sirinepun berbunyi bersama dan hand flare terbang ke udara seketika langit menjadi merah menyala di malam yang pekat di tengah Samudra pasifik

... halah!!

Saturday, September 6, 2014

Let's do it right

Setelah semua kelelahan dapat lalui bersama, sepertinya inilah waktu untuk bergandengtangan dan membuat banyak kebaikan untuk kebersamaan.

Tidak... bukan malah berdalih banyak hal yang bukan menjadi prioritas.
Jika ada sungai di depan, carilah rakit agar tak terbawa arus atau tenggelam
Jika ada bukit, dakilah bukan menggali seperti semut

Wednesday, September 3, 2014

Sàtu baru terlampaui

Ya... satu hal terlampaui sudah. Kita akan melanjutkan meniti jalan di depan sana. Entah apa yang akan ada, mari kita lihat dengan mata hati dan menyikapi dengan sebaik yang kita bisa.
Hope life treat me right

Sunday, August 31, 2014

What next?

Yes... what next after this - alon alon asal kelakon

Uhm.. makin banyak ketemu orang makin ga jelas detailnya. Gapapa deh, alon alon asal kelakon. Tapi kenapa begitu 'alon2' nya lalu kapan 'kelakon'nya? Bukankah kl dimulai lebih cepat akan lebih cepat pula hasilnya keluar

Saturday, August 30, 2014

The lie is like a snowball. The longer he is circulated, the bigger it is ~ Martin Luther ~

Yes it is...

Sayangnya aku harus melakukan hal ini selama berada di sini.
2 bulan waktu yang cukup panjang untuk ini dan akhirnya tak mampu menahan lagi.
Maafkan, teman2...

Bukankah keterbukaan akan lebih menyenangkan dan nyaman? Hidup sudah berat, teman, janganlah lagi kita tambah dengan segenap beban yang tidak semestinya.

Ah... terkenang masa kecilku yang diharuskan Bapak duduk di ruang makan seharian karena melakukan hal yang sangat tidak kusuka sejak itu. Betapa tersiksanya..
Dapat dibayangkan karena harus melakukannya lagi selama 2 bulan?

Dia memang bukan Bapakku, karena beliau sudah bersama Ibuku di sisi Tuhan, tapi saat ini dialah orang dimana aku menggantungkan kehidupan ini. Dia orang yang aku hormati, bukan saja karena seharusnya namun juga karena kebaikan hatinya.

Bisakah kita bedamai? Aku harap demikian..

Yuk buang saja yang ga perlu dan mengambil pelajaran dari semua ini!



Thursday, July 11, 2013

Haruskah selamatan ketika nempati rumah baru?

Omong omong soal selamatan rumah, jadi ingat ibu almarhum, dulu waktu pindah dari Merdeka Barat ke Kranji tahun 1996, ibu bilang harus selametan dengan mengundang pengajian. Sejujurnya aku ga nanggapi serius soal ini, karena aku pikir yg penting "assalaualaikum" ketika masuk rumah dan memperkenalkan diri ke tetangga kiri kanan depan belakang aja.

Ibu dan Bapak almarhum kelihatannya melaksanakan selamatan rumah itu, aku lupa dan juga ga tau pelaksanaannya karena kalo ga salah dulu itu aku lagi kerja di Cikotok. ga berapa lama setelah pindah ibu jatuh di depan kamar mandi sehingga retak tulang panggulnya. Abis itu ibu emang sering sakit dan kesehatannya terus menurun walau sering juga kelihatan baikan dan sehat juga, hingga akhirnya meninggal dunia tahun 1998.

Tahun ini giliran aku yang dihadapkan secara langsung untuk selamatan rumah biruku. Teman yang non muslim bilang bikin selamatan untuk ucap syukur pada Yang Kuasa karena punya hunian baru. Aku setuju. Tapi untuk aku ucap syukur itu ada berbagai cara dan caraku adalah bersujud ketika menempati rumah itu pertama kalinya sebagai rasa syukurku dan selebihnya berbuat lebih baik kepada sesama, sedapat mungkin engga sakiti dan bikin susah orang lain. Berbagi rejeki jika ada, bayar zakat kalo gajian atau ada rejeki lain.

Bicara soal selamatan rumah biru buat rasa yg ga nyaman sama sekali. Walaupun itu aku lakukan dengan maksud untuk menyamankan orang2 di sekitarku. Alhasil, abis acara aku malah sangat sangat gelisah. Aku tau ini bukan soal "penghuni lain" rumah ku yang mengganggu, tapi hanya pertentangan batinku sendiri.....

Untuk aku pribadi, yakin dan percaya bahwa "mereka" memang diciptakan dan ada dimana mana. Tapi apakah mereka akan mengganggu kita? Kalo kita ga ganggu, apa mungkin mereka akan jail ke kita? keknya engga deh. Jadi biarkanlah kita hidup di dunia kita masing masing. Bukankah begitu?

Aneh bin ajaib..... ada seorang bapak yang mengatasnamakan dirinya sebagai ustad datang ke rumah untuk "adzan rumahku" (eh maap nih, adzan bukannya untuk manggil orang untuk sholat ya?). Aku sih yah silahkan aja, aku anggap baik aja lah. Setelah itu, dia bilang "keknya rame nih rumah" (maksudnya rame sama hantu pastinya)..... nah ini yg aku sama sekali engga suka. Kesannya si bapak ini nakut2in aku. Siapa perduli ini rumah rame apa engga???? Halah, pelanggaran nih bapak. Aku engga mau bilang dia ustad, karena menurut aku seorang ustad tuh pasti memberikan keteduhan jiwa, bukan malah nakut2in.

Suatu hari akhirnya aku ketemu "teman lama" yang menurut aku benar benar seorang ustad dan istrinya juga seorang ustadjah. Aku senang sekali berdiskusi soal agama dengan mereka (Alhamdulillah). Beliau berdua membenarkan bahwa mahluk halus memang diciptakan Allah dan ada di sekitar kita namun dalam dimensi yang berbeda. Mahluk halus tidaklah dapat dengan begitu saja mengganggu manusia selama manusia juga tidak mengusik mereka dengan "pemujaan".

Soal selamatan rumah memang tidak ada salahnya selama dijalankan dengan niat dan cara yang benar, sebagai tanda kita bersyukur, tidak selamatan juga tidak masalah (aku keknya lebih cenderung ke opsi terakhir hehehe... teteub). Namun mereka lebih menekankan adanya silaturahmi dengan tetangga dan karena aku kerja jauh dari rumah dan hanya sebentar di rumah, dianjurkan untuk membawakan para tetangga sekedar oleh oleh jika pulang dan ga perlu yang mahal, sebagai tanda perhatian dan terimakasih untuk "menjaga" rumah selama kita jauh...... Masuk akal kan?

Belum banyak yang aku diskusikan dengan mereka berdua, karena keburu ada tamu lagi di rumah mereka. Mudah mudahan di cuti ku yang akan datang aku bisa sowan lagi ke mereka.....

Ini hanya sekedar berbagi dengan siapa saja yang mau baca, tanpa maksud mendiskriminasikan apa dan siapaun, so mohon maaf kalo ada yg engga berkenan..

Tuesday, April 16, 2013

Rumah Biru Lumba Lumba

Berawal dari sebuah keinginan punya rumah sendiri beberapa tahun lalu, sejak kami mulai mengontrak rumah bersama (Deden dan si Botak, istrinya Deden namanya Tia dipanggil Nozqa tapi aku lebih senang dengan panggilan sayangku untuk dia; si Botak) di daerah Pelem Sewu Bantul, kami bertekad jika harus keluar dari rumah kontrakan ini kami harus pindah ke rumah milik sendiri.

Mulai cari cari, kira kira dimana lokasi yg menarik. Pernah sama Kak Yorrie jalan jalan ke dekat dengan properti miliknya dan milik Deden dan Nozqa di Bangun Jiwo, Bantul dan dapat sebuah perumahan yang cocok dengan situasi ku yang selalu jauh dari "rumah" yaitu dengan sistem "one gate", jadi keknya cukup aman untuk ditinggal tinggal.
Tapi emang cari/beli rumah juga jodoh2an kata orang, waktu itu aku ga punya uang untuk bayar dp, jadi dari saat itu aku mulai menabung demi mewujudkan impian.

Kalo cuti selalu "iri" liat Deden dan Botak yg sibuk bangun rumah dankami selalu diskusi kalo maubeli rumah harus deket rumah mereka atau rumah Kang Wito (sahabat kami). Abis jalan jalan suatu sore, kami sengaja lewat sekitar rumah Kang Wito di daerah tamantirto - Brajan. dan liat 2 lokasi perumahan. Yg satu perumahan dengan cukup banyak unit dan yg 1 lagi bukan perumahan dan hanya ada 4 kapling. Semuanya masih tanah melompong. Diskusi diskusi dengan Deden, Botak dan Kak Papi, akhirnya aku mutusin untuk ambil 1 dari 4 kapling yg ada (yg bukan perumahan).
Bingung juga ketika ketemu kontraktornya dan ditanya mau layout rumahnya spt apa? hahahahaha.... semua aku minta gambarin kira2 gimana bentuk calon rumahku. Untuk aku yg penting paling tidak ada 2 kamar tidur, 2 kamar mandi,  sedikit halaman belakang untuk sirkulasi udara dan dapur engga perlu besar yg penting ada ruang untuk masak air dan bikin mie instant (saking kecilnya kompor 2 mata aja ga cukup hahhaha....). Masih bingung juga karena kalo di Manuran walau ada telpon kantor aku merasa risih pake untuk urusan pribadi (kalo ga kepepet hahahahaha). Deden dan Botak bersedia bantu aku secara ful untuk urusan rumahku, walau mereka juga masih sibuk dengan membangun rumah Dome mereka di Bangun Jiwo.

Walau pake acara mundur dari jadwal yg ditentukan, walau pake acara sewot2an dengan kontraktor, walau Botak sering sewot sama aku karena aku malas mikir walau soal warna cat (untuk aku yg penbting biru, birunya mah terserah yg seniman lah) yg jelas Deden dan Botak is The Best Project Leader dan berdirilah rumah biruku dengan detail lumba lumba di mana mana, di kamar mandi, di dapur, di-stop kontak, dll. Maka jadilah rumah ku Rumah Biru Lumba Lumba yang begitu nyaman ditinggali, begitu indah di mataku..... tentunya hehehehehe....

Terimakasih khusus buat Deden dan Botak yang udah urusin pembangunan rumahku, mempercantik rumahku sampe mindahin barang dari kontrakan ke rumah biru. 
Terimakasih untuk keluargaku, mbak Utami dan Lily yg ikut prihatinku waktu aku mewujudkan impianku ini. 
Untuk mas Wito, Mbak Atun, Kak Yorrie, Kak Papi, Debby yg ikut nengokin dan nyumbang isi rumah, juga mamaku sayang Mama Eva dan Tante Lia yg banyak kasih masukkan buat rumah ku terkait dengan urusan pajak dan notaris. Mama mamaku yg ikut mendoakan serta Dadah yang ngelukisin lumbalumba di atas kolam dan masangin Puzzle Millet yg disusun Itcha.
Terakhir adalah buat bosku di Manuran dan di Jakarta atas pengerian dan bantuannya selama pengurusan rumah ini.

Tak terhingga rasa syukurku kepada Allah atas nikmat yg diberkikanNya. 


 








Monday, March 25, 2013

Lagu Skyline (by Kasta)

Biru, lambang cintaku
Garis cakrawala penuntun jalanku
Bunga salju penyejuk jiwaku,
Oh Skyline

Bersamamu, kutelusuri Nusantara
Bersamamu, ku cerita pada dunia
Bersama kita reguk panorama indah....
INDONESIA

Hai majulah, melangkah majulah
Raihlah masa depan gilang gemilang
Hai majualah, melangkah majulah
Raihlah masa depan gilang gemilang

Ga tau sebetulnya siapa yg bikin kata2 indah dalam lagu itu.
Skyline adalah klub pencinta alam (sekarang lebih suka bilang penikmat alam) dimana aku menjelajahi liku2 petualangan alam.

Aku gabung dengan klub ini tahun 1986, tahun tahun awal aku kuliah di Jogja. Teman se-angkatanku, Menyek (Tri Joni Susanto) yang memperkenalkan Skyline ke aku dan teman lainnya yang juga ikut bergabung (Eko dan Kasta). Sebelumnya kami sama sama ikut pendidikan dasar pencinta alam di Kampus STTNAS (dulu ATNAS) Jogjakarta.

Skyline ada beberapa "cabang" di kota kota di Jawa, yaitu ada di Malang (bersama teman2 dari Imapala - UNMER), Kota Batu (dengan teman2 dari Papalas) dan Semarang (seorang dari UNDIP - Ibung alm)

Pendakian pertama kami dalam Skyline adalah Gunung Ciremai di daerah Kuningan, Jawa Barat. Waktu itu sekalian kami dilantik jadi anggota Skyline (secara udah ikut pendidikan pencinta alam kampus, jadi langsung dilantik).Setelah pelantikan, berturut turut aku dan teman2 ikut ekspedisi dalam klub. 

Pertama kami ke Makassar (dulu Ujung Pandang), ceritanya memberi bantuan teman2 dari IMAPALA yang berangkat duluan dan membantu melakukan pencarian dan penyelamatan (SAR) di Gunung Bawakaraeng. Berangkatlah kami ber 4 (aku, Sugeng, Kasta dan Iin) dari Surabaya dengan kapal Patroli Polisi Laut (apa yah namanya). Kami berlayar dari Surabaya ke Makassar selama 3 malam 2 hari di dek depan, jadi langsung berhadapan dengan cipratan ombak.... :(

Saat itu diyakini masyarakat sekitar jika mendaki gunung tersebut pada waktu naik haji, mereka akan dianggap sudah melakukan ibadah haji. Kebeneran pada saat yang sama terjadi musibah di Tanah Suci dan mereka menerima musibah badai di Bawakaraeng adalah sama dengan yang terjadi di Tanah Suci.

Mungkin untuk ekspedisi ini aku mau buat ceritanya tersendiri. Pendek cerita di Makassar kami dibagi dalam beberapa tim. Tim ku (yg ber 4 itu) ke bagian selatan Sulawesi Selatan, yaitu pendakian Lompobattang, kunjungan Desa Kajang di Bulukumba dan pemanjatan  bersama (ini untuk seluruh tim) di tebing Bisaeng Laborro (Bislab). Yg asik dalam ekspedisi ini aku nyobain soto kuda dan minum balok (arak dari nira khas Ujung Pandnag).

Kedua adalah Ekspedisi Lintas Jawa Bali dan Nusa Tenggara (Sugeng, Iwan "eNding", Nanto, Yudsi "Kapten", Eko, Menyek dan aku) tahun 1988, pake mobilnya Sugeng si "Carry" Biru. Kami berangkat dari Jakarta, singgah di Jogja (di Jogja sih aku bergabungnya), lalu ke Malang, trus ke Bali. Di Bali kami (tepatnya aku hanya tukang masak nasi yg juga engga bisa aku lakukan hehehe) ke  Uluwatu untuk memanjat tebing di sana (bukannya surfing....:P) beberapa hari, lanjut ke Lombok untuk pendakian Gunung Rinjani (minus Nanto). Abis pendakian relaxing di Pantai Senggigi sebelum lanjut ke Sumbawa lewat darat dan lanjut ke Pulau Komodo... mentok terus balik lagi ke Barat. Berangkatnya sempet ketinggalan kapal dan bermalam di asrama polisi di Sape (ujungnya Pulau Sumbawa).

Berturut2, kami melakukan kegiatan penikmat alam ini hingga sekarang.
Kenapa aku tulis cerita ini.... karena aku kangen jalan2 yang begitu menyenangkan.

RIndu akan embun pagi yang menyapaku ketika keluar tenda
Rindu tetesan peluh saat pendakian
Rindu akan api unggun yang menghangatkan jiwa raga

Yuk kita mendaki lagi, walau tetep jadi tim leled ceria....

Note dari Kasta sang pencipta lagu Skyline:
sebenarnya saya sangat surprise tulisan utari diatas bahwa utari tidak tau siapa yang ciptakan lagu dan kata-kata karena semua pembuatan lagu dan kata-katanya dia ada disitu. Tetapi agar adik2 SL yg lain juga bisa tau sebaiknya saya jelaskan saja disini bahwa lagu dan kata2 dalam lagu sky line tersebut terinspirasi saat pulang dari ekspedisi SL ke Sulawesi dimana saat itu saya merasakan kekeluargaan yang sangat kental karena anggota SL yang berasal dari berbagai suku dan daerah yg berbeda2 tp kekeluargaannya sangat kental. Sepulang dari Sulawesi kami sempat beberapa hari di Malang tepatnya di rumah Ahmadi. disanalah saya mulai coret2 kata2 yang keluar dari hati utk mengilustrasikan rasa kekeluargaan yang sangat mendalam ini. Karena kata2 tersebut ingin saya luapkan dalam suatu bentuk Mars organisasi SL yg bisa menjadikan spirit dan semangat perjuangan maka jadilah seperti lagu yang kita nyanyikan sekarang. Saya tidak ingat gitar siapa yang saya pake waktu bikin lagu ini kl ga salah gitarnya Ateng adek Ahmadi. Cara saya membuat lagu ini juga terinspirasi oleh Bunda Uli Sigar saat beliau mengamati dentingan musik tanah toa yang dengan tekun dia amati dan tuliskan iramanya dalam bentuk not balok, dalam membuat lagu SL ini saya tidak bisa menuangkan iramanya dalam bentuk not balok maka saya hanya mencatat kunci2 gitarnya saja supaya saat diulang2 utk mendapatkan nada yang baik tdk lupa. Itu dilakukan beberapa kali berulang2 saat waktu2 santai selama di Malang di rmh Ahmadi.
Semoga bermanfaat
Kasta Sbt SL42KAC (bener ga ya no.ku 42?? lupa) 


Thursday, March 21, 2013

Pendakian Pertamaku


1982 October – Gunung Gede
2,958m asl, Strato Volcano A type, Lat 6°47' & Long 106°59'



Pendakian pertamaku adalah Gunung Gede. Disinilah cinta pertamaku pada gunung dan alam mulai bersemi

Saat itu aku duduk di bangku SMA kelas 1 dan segera mewujudkan anganku akan indahnya alam dengan bergabung dengan kelompok pencinta alam Sanditala di sekolahku, yaitu SMA Sumbangsih Jakarta Selatan.

Melihat secara langsung mempesonanya bunga abadi, eidelweiss di hamparan lembah luas nan elok, Surya Kencana, dinginnya udara bersih nan sejuk segar, keindahan alam semesta, mengagumi keagungan Tuhan…

Untuk aku, pendakian adalah olahraga sekaligus olah mental. Pada saat kita melakukan kegiatan pendakian segala sifat manusia akan muncul kepermukaan. Bagaimana tidak, jika saat itu kita didera rasa lelah, lapar, haus atau bahkan nyaris frustasi, belum lagi harus membantu ketika ada teman seperjalan mengalami kesulitan atau dibantu jika kita membutuhkannya.

Dalam pendakian ini aku sangat berterimakasih kepada seniorku Otniel yang senantiasa mendampingi pendakian ini, juga Tatang, Sugeng dan lainnya yang telah membantu mewujudkan cita cita kecilku dengan meyakinkan Ibu dan Bapakku akan keselamatan pendakian perdanaku.

Walau usai pendakian aku terserang penyakit maag aku dan lever yang membuatku terbaring selama 1 bulan, jiwaku tetap membara dalam menjelajahi alam Indonesia……

Anganku tetap mengembara, jajaran gunung lain harus kupilih seiring kesempatan yang ada untuk menguji mentalku dan menantang kelemahan diriku…

Selamat datang di dunia pengembaraan, petualangan alam bebas…..

Wednesday, March 20, 2013

Masa Kecilku


1966 – 1979, masa kecilku

Namaku Sri Utari. Bapakku seorang polisi yang jujur dan Ibuku seorang mantan perawat. Aku lahir tanggal 25 Desember 1966 sekitar jam 12 siang. Kata Ibu, di Rumah Sakit Bhayangkara Petamburan – Jakarta ga ada dokter waktu aku lahir karena para dokter sedang merayakan Hari Natal… Tapi kelahiranku normal dan tidak menyulitkan Ibuku.

Sejak lahir rambutku keriting, kulitku gelap dan gendut alias bantet. Ibuku bilang aku seperti anak orang Irian… at the end aku bekerja di papua dan tau aku mencintai tanah Papua….

Bapak bekerja sebagai abdi Negara, yaitu polisi dengan pangkat terakhir letnan colonel. Ibu dulu seorang perawat di RS di Surabaya sebelum menikah. Setelah punya anak 1, Bapak meminta Ibu berhenti bekerja.

Aku punya kakak perempuan, namanya Sri Utami yang lahir tanggal 27 Oktober 1961, aku panggil dia mbak Ut. Selisih usia yang 5 tahun, mbak Ut lumayan ngemong, walau suka curang sama aku waktu kecil, apalagi kalo soal coklat. Dulu Ibu suka belikan coklat full cream atau coklat paying di toko ABC dekat lampu merah di pertigaan jalan Budi Kemuliaan (deket RS Budi Kemuliaan) dan jalan Abdul Muis.

Kami tinggal di Jl. Merdeka Barat no. 10 Jakarta Pusat, sebuah kompleks kepolisian dengan 6 keluarga polisi dan sebuah kantor kepolisian (lupa aku itu dulu kantor apa, tapi yang jelas banyak polisinya). Bapakku berkantor di Mabes Polri di Jl. Trunojoyo, bukan dikantor yang dekat dengan rumah.

Rumahku berbatasan dengan jalan Musium dan bertetangga dengan Musium Gajah (Musium Nasional). Jadi ga heran kan kalo aku sejak kecil sudah kenal namanya Musium Gajah, karena Musium itulah tempat bermainku saat kecil bersama kakakku dan anak anak dari Pak Amir (kepala Musium Gajah).
Di seberang jalan raya ada taman Monas. Setelah taman arah timur, Tugu Monas menjulang tinggi dengan megahnya… kebanggaan warga Jakarta…..

Taman Ria Monas dulu ada di sebelah selatan Tugu Monas. Ada banyak mainan anak anak di sana, juga patung patung hewan yang besar dan kami senang menaikinya.

Jakarta Fair tahun 70an digelar di area Monas setiap tahun menjelang ulang tahun Kota Jakarta. Aku sering ikut Tante Ana (anak Oma Sadoek) ke sana, bahkan hampir setiap malam hehehehe…..

Pertokoan Sarinah dan Jalan Sabang, karena paling dekat dengan rumah jadi tempat jalan jalan kami sekeluarga. Kesanalah kami sering dibawa Ibu (kadang sama Bapak juga) untuk jalan jalan alias “hang out”. Aku suka sekali naik mobil mobilan yang akan goyang kalo dimasukkin koin yang beli area itu…. Kaya time zone mungkin kalo jaman sekarang.

Jalan jalan lain adalah ke Kebun Binatang Ragunan atau ke Kebun Raya Bogor. Waktu pertama Kereta Listrik Jakarta Bogor diluncurkan, kami naik kereta sekeluarga khusus untuk nyobain. Naiknya dari stasiun Kota, supaya dapat duduk…. Ancolpun dari dulu menjadi salah satu tempat hiburan, terutama pantai Marina. Kami ke sana naik mobil dinas Bapak Land Cruiser Kanvas yang bensinnya boros banget. Mobil ini juga yang sering bawa kami pulang pergi dari jakarta ke Wlingi alias pulang kampung, tentunya dengan berbekal jerigen bensi dari besi di luar mobilnya.

Kehidupan kami biasa saja secara materi juga cukup cukup aja tuh, kami selalu bersyukur, hemmm… mungkin Bapakkulah yang selalu mengajari cara bersyukur. Bapakku yang seorang polisi yang cukup keras mendidik kami.

Dulu, polisi mendapat jatah beras setiap bulannya, tapi berasnya jelek sekali. Kalo sedang ada rejeki Ibu menukar besar pembagian dari kantor Bapak ke Pasar Tomas di daerah Cideng dengan beras yang lebih bagus (sekarang keknya pasar tomas udah rame jualan velg mobil, ga tau pasar tradisionalnya masih ada apa engga).

Tahun 1972, Ibu mengandung dan aku ingat pada bulan Juni, Ibu mengalami pendarahan (blooding) yang menurut ukuranku saat itu (udah kelas 1 SD atau malah masih TK, ya?) begitu dahsyat. Aku lari ke kantor depan untuk temui Pak Karto (kayanya Pak Karto adalah pegawai sipil di kantor itu dan cukup dekat dengan keluarga kami) dan minta tolong agar Bapak ditelponin untuk dapat segera pulang liat Ibu.

Ibu dibawa ke Rumah Sakit Sumber Waras untuk mendapat pertolongan. Ternyata adik dalam kandungan ibu engga bisa tertolong dan aku tau kami kehilangan adik lelakiku ketika Bapak keluar dari ruang dokter dengan wajah sayu dan kusut….. kami memakamkan adik lelakiku di TPU Karet. Nama adikku Utomo. Dia digendong mas Dar (kakak sepupuku yang markonis, ga tau markonis itu apa ya, mungkin ABK kapal) dari rumah sampai di tempat peristirahatannya yang terakhir.

13 Maret 1974, lahir adik perempuanku. Namanya Sri Lestari dan dipanggil lily. Maksudnya sih cilik/kecil, karena Ibu dan Bapak mengharapkan dialah anak bungsu mereka.

Dari kecil aku jagoan main sepeda, pake longdress aja aku foto di atas sepeda… walau sepeda roda 3 hehehehe….. Bapakku telaten sekali ajari aku naik sepeda roda dua, sehingga cepet aku bisanya.

Aku selalu minta Ibu untuk merayakan hari ulang tahunku yang selalu jadi hari libur nasional. Aku selalu dibeliin Ibu baju di Proyek (pasar) Senen. Aku senang keitka tiup lilin dan minta sesuatu dalam hati sama Tuhan, berharap apa yang aku mau segera terkabul…. Ternyata Tuhan punya rencanaNya sendiri….

Kenangan semasa kecil yang masih lekat di benakku (karena aku sampai sekarang jadi trauma) adalah ketika aku dikejar ayam jago aduannya bapaknya Harjo (tetangga kami). Aku keluar main sama mbak Ut lewat pintu belakang (dekat pintu belakang itu ada sekelompok pohon pisang), Abis lewat pohon pisang itu tiba tiba si ayam nguber aku, sadar diuber ayam aku lari. Ternyata si ayam makin gila. Karena masih kecil dan pendek aku mudah dijangkau si ayam. Dapatlah aku 3 patoka di wajah mungilku (di bawah mata kiri, di pipi kiri dan di kelopak mata kanan atas). Nangis ku keras karena panik, takut dan sakit.

Ibu langsung lari keluar liat apa yang terjadi dan langsung memeluk aku yang masih kejer nangisnya. Mbak Utami yang ceritain ke Ibu bahwa aku dikejar ayam aduan. Ketika nangisku reda, si ayam dapat rejeki dari Ibuku deh, Ibuku marah luar biasa. Ayam itu ditangkap dan diikat, udah tuh ayam ga berdaya, ibuku juga masih naik pitam. Ditendang tendang deh tuh ayam…. Makanya jadi ayam jangan beraninya hanya dengan anak kecilllll…. Cemen lo yam…

Ibuku emang perkasa. Tapi hatinya lembut sekali, selembut bunga mungil bunga melati tanamannya yang selalu dirawatnya… harum pula… I love you, mom…
 
1977 – 1979, Seni Tari Tradisional – Tari Jawa

Bapak dan Ibuku senang ketika aku mau ikut les Tari Jawa (mbak Ut lebih suka tari Bali), apalagi waktu aku mulai pentas di panggung di TIM (Taman Ismail Mardjuki). Pentas Tari pertamaku adalah tari Petani, aku jadi pak tani. Pentas kedua, aku nari kupu kupu.

Yang paling seru ketika aku ikut les tari sama Ibu Mashuri (dulu menteri penerangan) di rumahnya di jl Agus Salim dan pentas Tari Bondan di Taman Mini Indonesia Indah…

By the way, tari bondan adalah tari impianku, ternyata terkabul menarikannya di joglo TMII…. Mungkin ini jawab dari “after blowing out the candles and make a wish on my birthday yah heheheh…. Impian selanjutnya adalah tari srimpi, tapi aku keburu lulus SD dan ogah nari lagi dan masuk SMP untuk buka lembaran baru….
 
1973 – 1979 – SDN Cilamaya

Aku masuk sekolah TK di jalan Abdul Muis (lupa nama TK nya) dan tanggal 2 Januari 1973 adalah hari pertama sekolah SD-ku di SDN Negeri Cilamaya, di daerah Cideng, di sekolah mbak Ut dan dia udah kelas 6 waktu aku masuk sekolah. Waktu kelas 1 dan 2 SD, kalo Ibu ada arisan di kantor Bapak, aku selalu minta ikut dan bolos sekolah. Kalo ga dikasih aku nangis keras keras. Biasanya Bapak antar kami sekolah sebelum ke kantor. Kadang aku naik bis umum juga, bayarnya 15 rupiah… sekarang 15 rupiah dapat apa yaaaa….

Waktu SD aku ikut karate, tapi ya gitu deh anget anget tai ayam, baru berapa kali juga udah bosen.

Ngaji juga pernah ikut di Rumah Pak Amir di sebelah Musium. Tapi aku mutung gara gara aku salah baca trus tanganku dipukul sama Pak Somad (guru ngaji kami) pake penggaris kayu dan aku engga mau ngaji lagi… sampe sekarang aku engga bisa baca Qur’an… nah, pelajaran bagi tenaga pengajar tuh, jangan bikin anak didik trauma kali yaaaa…

Teman dekatku waktu SD namanya Sari Dewanti anak Jaksa tinggal di Jl. Cilamaya no 44 dan Retno Anggraini anak dokter (foto: sama retno dan saudaranya di Geger Kalong, Bandung), tinggal di jalan Citarum (ujung deket belokan). Kalo pulang sekolah aku main sama mereka apalagi kalo Ibu atau Bapak ga bisa jemput sepulang sekolah. Ibu bisa jemput juga aku suka minta dijemput sore hari.

Pertama kali aku nginep rumah temen adalah rumah Sari, malemnya aku ngigo… mau keluar pagar, untung mamanya Sari abis sholat tahajut ngikuti aku… kalo engga mungkin aku udah keluyuran entah kemana tengah malam hehehe….

Kakaknya Sari, kak Boni juga temennya mbak Ut dan mbak Ade dan Mas Budi. Adiknya namanya Tia. Ternyata Sari bersaudara tiri dengan Dewi Yul yang dulu istrinya Ray Sahetapi. Dulu kami suka main ke rumah mereka di Salemba, waktu mereka belum terlalu top getoh….

Permainan “keren”ku yang pertama adalah skate board…. Wowww….. Walau dengan skateboard pinjeman punya mas Budi, aku bisa ber-sakateboard dari rumah Sari sampai taman dekat sekolahku… lumayan loh….

Sari meninggal dunia dalam kecelakaan lalu lintas di Alas Roban Jawa Tengah. Saat kecelakaan Sari sedang menuju Bali bersama suami dan anak perempuannya.

Oh ya waktu SD, temenku lainnya ada Yuli anak Tomang, Ade Miskarana anaknya Mieke Wijaya dan Dicky Zulkarnaen, Ivan Fadillah si cowok kecil ganteng yang rumahnya deket taman di deket rumah Sari (kayanya sekarang istrinya artis).

Kelas 6 kalo ga salah aku mau ikut camping di Bogor sama kelompok pramuka di Mesjid Istiqlal. Tapi kakak pembinanya dodol…. Ga jadi deh kempingnya, padahal udah bawa bekal dan diantar ibu dan bapak ke Istiqlal….. heeemmmmm sebel.

Sakit paling parah semasa SD yang aku alami adalah panas tinggi. Aku lupa kelas berapa. Yang aku ingat aku pulang sekolah diantar teman teman dengan jalan kaki dari sekolah ke rumah. Ada Retno dan Sari yang aku ingat dalam kelompok pengantarku. Dalam sakitku, kata Ibu aku mengigau saking panasnya suhu badanku, mencapai 39.6o celcius.

Kayanya dalam igauanku itu aku ingat bahwa aku mimpi (hampir nyata) aku duduk di kubur dik Tomo. Dik Tomo ditemani mbah kakung (mbah Wiro, ayah dari Bapakku) bawa payung dan ajak aku main ke tempat yang agak jauh, tapi aku dengar Ibuku bilang jangan pergi main sambil nangis. Akhirnya aku berpaling ke Ibuku aja. Ketika aku buka mata aku liat Ibuku ada di sebelahku sambil nangis…. Kan bener, mimpi itu hampir nyata…