Pages

Showing posts with label Teman Utari. Show all posts
Showing posts with label Teman Utari. Show all posts

Sunday, March 31, 2013

Mengenang 5 Tahun Kepergianmu - 30 Sept 2012



Di antara badai yang datang pagi ini, kami mengenangmu, sahabat
5 tahun sudah kita tidak bersama dan kami meyakini rencana indah Tuhan untukmu, telah membuatmu bahagia

Kami berhimpun menundukkan kepala, mengenang duka yang pernah mengukir hari.
Bukan untuk mengorek luka lama, namun sebagai pembelajaran bagi kelanjutan hidup dan memetik makna dari kejadian itu

Kami bersatu di aula dalam pengajian, kami bersatu di gereja dalam doa
Kami bersyukur atas nikmat yang diberikanNya, atas kebersamaan kami walau dalam perbedaan dan....
Kami menabur bunga di dermaga, sebagai tanda bahwa kau pernah bersama dan menjadi bagian dari kami… 

30 Sep 2007 - 30 Sep 2012

Thursday, March 21, 2013

Keseharian Mbah Maridjan


Pada tahun 1983 (kalo ga salah), atas restu keraton, Mbah Maridjan menggantikan ayahnya, yang biasa dipanggil Mbah Hargo (Mbah Hargo sudah meninggal, tapi aku ga' tau meninggalnya tahun berapa) menjadi Juru Kunci Merapi. 


Mbah Maridjan seorang abdi dalem Keraton Yogya. Beliau beristri satu (ya mbah Putri - Ponirah) dan punya 5 orang anak. Berturut turut adalah mbak Panut si sulung (tinggal di Desa Kaliadem dan punya warung yang terkenal wedhang gedangnya di Kinahrejo, samping rumah Mbah Maridjan), Mbak Sulastri (tinggal di Yogya), Mas Asih (tinggal di Kinahrejo), Mbak Sulami (tinggal di Bekasi, mungkin tetangganya Mas Boim?) dan mas Widodo (tinggal di Rawa Lumbu - Bekasi). Mbah sudah punya cucu bahkan cicit.

Beliau seorang cowok (he he he...) berusia 79 tahun, secara pribadi beliau orang yang ramah, penuh welas asih dan bersahaja. Beliau tak segan memberikan nasehat gratis kepada siapapun yang membutuhkan, namun saking tingginya bahasa filosofi beliau jadi agak sulit ditangkap makna dari nasehatnya. Beliau juga tidak segan segan "memarahi" para pendaki Merapi yang membandel (kadang ada yang suka 'nakal' dan membahayakan rekan lainnya), karena jalur pendakian Merapi dari arah Selatan sangat berbahaya terutama dari batas vegetasi (Kendhit) ke atas (kabarnya sekarang jalur selatan ditutup karena jalurnya putus oleh erupsi merapi th duaribu reapa gitu (2004?)).
Beliau tidak pernah menolak jika ada tamu yang berkunjung ke rumahnya, kapanpun selagi beliau bisa.

Diluar itu semua, beliau orang yang sangat humoris. Kadang kadang beliau berbicara dengan menggunakan campuran Bahasa Inggris dan Bahasa Jawa. Ada kejadian yang lucu, saat itu magrib dan Mbah sudah siap pergi ke mesjid. Aku bertanya mau kemana? Si Mbah menjawab dengan sambil lalu "arep street street nang masjid" (maksudnya mau jalan jalan ke masjid).

Keseharian Mbah Maridjan ya seperti seorang kakek pada umumnya. Di pagi hari setelah bangun tidur dan sholat, ngeriung di dapur untuk sarapan. Biasanya Mbah Putri sudah menyiapkan seduhan daun teh dan kue/roti kering untuk sarapan, lalu Mbah Maridjan menuangnya dalam mug kesayangannya ditambah air panas dan mulailah beliau memotong motong gula jawa untuk campuran tehnya. Tak lupa sambil menengok nengok kalau kalau sang cucu (anak Mas Asih, Rosi dan Nurma) yang juga tinggal di Kinahrejo muncul untuk sarapan bersama.

Setelah sarapan, Mbah Maridjan akan mengambil sapu dan mulailah beliau menyapu halaman rumahnya. Mbah sering berkelakar bahwa "aku ki sekolah e nang njpu" (aku sekolahnya di nyapu-njpu seolah olah nama universitas) dan kerjanya bwsp.... buwang sampah...

Siang hari kalo lagi ga ada tamu, ya leyeh leyeh, bercengkrama di dapur sama keluarganya. Menjelang magrib ya siap siap ke masjid. Malam ya nonton sinetron kalo ga ada tamu. Kalo tamunya 'orang deket' sementara beliau lagi nonton, pasti disuruh nunggu selesai sinetron.... (bener koq, si Mbah seneng nonton sinetron....)

Selagi beliau masih lebih muda (10-15 tahun yl), sehari harinya beliau ngarit (mencari rumput) untuk makan sapi piaraannya di hutan Pethit Opak di atas Desa Kinahrejo atau di atas Bebeng. Sekarang Mbah engga' ngarit lagi karena sudah tua, jadi kegiatan sehari harinya ya njpu dan bwsp sambil momong cucu.... Sebenarnya beliau juga sedang menikmati hari tuanya sambil terus menjaga tali silaturahmi dengan Merapi.

Dulu, kalo urusan nyari pendaki ilang di Merapi alias nge-SAR.... hemmmmmm, jangan pernah sepelein beliau deh.... Kalo beliau bilang belom harinya ketemu, ya jangan "nyisir" area, karena percuma yak.... itu bener bener udah terbukti lho...

Aku pribadi sangat mengagumi sosok Mbah Maridjan, jauh jauh hari sebelum beliau menjadi sorotan media, walau mungkin Mbah Maridjan sendiri engga begitu mengenal aku.
Sekarang setelah beliau jadi tenar.... (kalo ada yang ngeledekin bahwa beliau sekarang udah jadi bintang tv, "bintang opo... memedi sawah...?" begitu selalu dijawabnya), aku makin salut sama beliau, salut akan komitmennya sebagai kuncen.....

Begitulah sedikit cerita tentang si-Mbah Maridjan tercintah...... 
Semoga berkenan....

Re-post from Multiply posted on 19 may 2006

Wednesday, March 20, 2013

In Loving Memory, Mas Lilik Trihartono



------ SMS ------ From: +6281328584732, Received: Mar 17, 2013 15:44
 Maap mbak ut br bls smsnya..kmrn pas lg tdr...msh blom baik mbak ut...ini mlh msh d rawat d klinik tempat dokternya...masih ngos2an mbak ut...blom blh plg sm dokternya..ato ga nanti sy minta kaka sy telp mbak ut untuk kasih tau kondisi sy sekarang...soale klo terlalu byk ngomong msh blom kuat mbak ut...menggeh2... 

------ SMS ------ To: +6281328584732, Sent: Mar 17, 2013 15:49
 Ok mas lik, engga perlu juga koq telpon ga ada kaitannya sm kerjaan, hy ingin tau kondisimu wae. Ya wis istirahat aja, biar kita bisa cekakan bareng lagi yah 


------ SMS ------ From: +6281328584732, Received: Mar 17, 2013 15:50
Oia mbak ut...makasih ya...doakan smg cpt smbh...amin

------ SMS ------ From: +6281328584732, Received: Mar 18, 2013 23:25
Mbk,ini saudara nya mas lilik...mas lilik td sore sekitar pukul 18.15 meninggal...

SMS terakhir adalah gelegar paling pilu di pagi mendung Sorong 19 Maret 2013 (email dari HR sudah duluan masuk ternyata, namun SMS inlah yang saya baca pertama)

Rasa tidak nyaman melingkupi hati saat melihat SMS dari nomer tersebut dan dalam hitungan detik tertera jelas berita duka didalamnya seiring airmata yg tanpa disadari menetes.

Mas Lilik berwajah yang enak dilihat, perawakan kurus dan kecil adalah sosok yang ramah, jenaka dan sederhana dengan kekerasan tekad untuk mencapai yang terbaik.

Ada banyak suka duka dalam melaksanakan tugas harian bersama selama kurang lebih 4 tahun. Bersama kami belajar kedisiplinan dengan teman teman lokal di Raja Ampat untuk menjadi lebih baik dan lebih baik lagi 

Sebagai pemimpin di bagian laboratorium dia sangat menghargai anak buahnya. Membimbing dengan tepat,  mereka menjadi jauh lebih baik di hari hari terakhir keberadaannya di Manuran.

Saat saya kembali ke Sorong pada 14 Februari 2013, saya bertemu Mas Lik di mes kami dan ngobrol mengenai sakitnya. Saat itu Mas Lik baru keluar dari RS Pertamina Sorong dan menunggu siswa magang 'turun ke Sorong' untuk kembali ke Jogja daam rangka ujian akhir untuk bersama sama ke Jogja (Mas Lik adalah orang Wonogiri). Saya sempat berkelakar dengan menawarkan Mas Lik rokok, dia bilang "Ora sudi, mbak, ora rokok wae ngos ngosan je" 

16 Februari 2013, Mas Lik berangkat dari Sorong bersama 12 siswa magang menuju Jogja untuk melanjutkan perjalanan ke Wonogiri dan melanjutkan pengobatan di sana. Malamnya saya telpon Mas Lik, sekedar bertanya bagaimana perjalannya, mengingat kondisinya masih dalam keadaan belum sehat. Dia bilang Alhamdulillah baik baik perjalanannya dan kami sempat berdiskusi mengenai kelanjutan pengobatannya agar ada tindakan detail.

18 Februari 2013, saya 'naik' ke Manuran dan tenggelam dalam kesibukan di Manuran hingga saya turun lagi ke Sorong pada tanggal; 3 Maret 2013. Ucu sempat menelpon Mas Lik tanggal 4 Maret 2013 menanyakan keadaannya. terpikir beberapa hari kemudian untuk menelponnya kembali, namun karena ada banyak hal yang harus dilakukan di Sorong saya baru menghubunginya lagi pada tanggal 16 Maret 2013 dan dibalas melalui sms keesokan harinya.

Begitu cepat waktu berlalu, betapa singkat kami diberi kesempatan untuk saling menyapa dan sapa terakhir kami hanya melalui sms, tanpa sempat mendengar suaranya.

Lilik Trihartono tutup usia pada usia 29 tahun. Mas Wawan bilang, wis lakone urip, Agung Dwibantoro; only good die young 

Terimakasih untuk Mbak Rein (istri Mas Wawan), Ebeth dan Dedeth yang ikut mengiringi pemakamannya.
Terimakasih untuk semua rekan di Manuran yang telah mengheningkan cipta untuk mengenang Mas Lilik dan doa bersama yang dilakukan.

Ya Allah,
Ampunilah segala kesalahannya. 
Lapangkanlah jalannya untuk menemuiMu
Tempatkanlah dia ditempat muliaMu sesuai dengan kebaikannya semasa hidup
Berikan keiklasan bagi keluarga dan orang yang mencintainya

Di bawah adalah beberapa kegiatan kami dalam kebersamaan Mas Lik, foto diambil dari beberapa milik teman2.